Kota Lubuklinggau Dalam Kurun Waktu 1825-1948

Berlian Susetyo, Ravico Ravico

Abstract


Abstrak: Kajian tentang Kota Lubuklinggau berdasarkan kronologis sejarah masih belum ada kajian yang komprehensif, sehingga terjadi kegagalan pemahaman generasi muda dalam memahami sejarah Kota Lubuklinggau. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kota Lubuklinggau pada masa Kolonial Belanda, masa pendudukan Jepang, masa setelah proklamasi kemerdekaan serta masa agresi militer pertama dan kedua. Metode penelitian yang digunakan ialah metode sejarah, antara lain heuristik, kritik sumber, intepretasi dan historiografi. Hasil penelitian menunjukan bahwa Lubuklinggau Tahun 1929 menjadi dusun kedudukan marga Sindang Kelingi Ilir, kemudian dikembangkan menjadi ibukota Onder Afdeeling Moesie Oeloe masa kolonial Belanda Tahun. Pada masa Jepang Tahun 1942, Lubuklinggau menjadi ibukota Bunshu Musikami Rawas. Pada masa setelah kemerdekaan Tahun 1945, Lubuklinggau menjadi Kawedanaan Musi Ulu sekaligus menjadi ibukota Kabupaten Musi Ulu Rawas. Kemudian pada masa agresi militer Belanda I Tahun 1947 dan agresi militer Belanda II Tahun 1948, Lubuklinggau menjadi pusat pemerintahan Karesidenan Palembang sekaligus pusat pemerintahan militer Sub Teritorium Sumatera Selatan (SUBKOSS). Kata Kunci: Moesie Oeloe, Musi Ulu Rawas, Lubuklinggau

Abstract: The study of Lubuklinggau City is based on historical chronology, there is still no comprehensive study, so that there is a failure in understanding the young generation in understanding the history of Lubuklinggau City. Furthermore, this study aims to describe the city of Lubuklinggau during the Dutch colonial period, the Japanese occupation period, the period after the proclamation of independence and the period of the first and second military aggression. The research method used is the historical method, including heuristics, source criticism, interpretation and historiography. The results showed that Lubuklinggau in 1929 became the hamlet of the Sindang Kelingi Ilir clan, then it was developed into the capital of Onder Afdeeling Moesie Oeloe during the Dutch colonial period. During the Japanese period in 1942, Lubuklinggau became the capital of the Bunshu Musikami Rawas. In the period after independence in 1945, Lubuklinggau became Kawedanaan Musi Ulu as well as the capital of Musi Ulu Rawas Regency. Then during the Dutch military aggression I in 1947 and Dutch military aggression II in 1948, Lubuklinggau became the center of the Palembang Residency government as well as the center of the South Sumatra SubTerritory (SUBKOSS) military government. Keywords: Moesie Oeloe, Musi Ulu Rawas, Lubuklinggau

Full Text:

PDF


DOI: https://doi.org/10.36706/jc.v10i1.12902

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2021 Criksetra: Jurnal Pendidikan Sejarah

Criksetra: Jurnal Pendidikan Sejarah
Program Studi Pendidikan Sejarah
Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial
FKIP Universitas Sriwijaya
Jl. Palembang-Prabumulih, km. 32. Indralaya-Ogan Ilir
email: criksetra@fkip.unsri.ac.id
 
P-ISSN: 1978-8673 
E-ISSN: 2656-9620

 Indexed By:

    

In collaboration with Association of History Education Programs throught Indonesia (Persatuan Program Studi Pendidikan Sejarah se-Indonesia/P3SI):

Flag Counter

 

Lisensi Creative Commons

Criksetra: Jurnal Pendidikan Sejarah by E-Journal Sriwijaya University is licensed under a Lisensi Creative Commons Atribusi 4.0 Internasional.

View My Stats